21 Mei 2010

dikutip dari Ghuffron
karangan Human S Chudori
hal 69-73



…”orang bertetangga memang harus demikian, Pak Tejo. Setiap tetangga memang harus saling hormat-menghormati. Saling menjaga perasaan. Karena sesungguhnya saudara kita yang paling dekat kita ya tetangga. Tentu saja yang saya maksud disini bukan saudara sedarah. Melainkan saudara dalam arti luas. Karena yang namanya saudara bukan yang seketurunan saja. Bisa saja saudara sebangsa, saudara setanah air, dan kalau punya keimanan yang sama ya saudara sesame muslim, misalnya. Tapi, kalau mengaku muslim yang bener lho, Pak,” Ujar Ghuffron, setelah Tejo usai menceritakan laporan anaknya yang disampaikan istrinya.



“Bukankah kita sering diingatkan

innamal mukminuna ikhwatun

, baik yang disampaikan oleh khotib di masjid atau pada acara siraman rohani, entah di televisi atau radio” imbuh Ghuffron



Tejo diam. Entah kenapa ia seperti terhipnotis dengan kalimat yang baru dilontarkan tuan rumah.



…..”Nah umpamanya kalau tiba-tiba kita sakit? Siapa yang akan menolong pertama kali kalau bukan tetangga terdekat masa saya harus menunggu saudara yang dari Bekasi, di Semarang, atau saudara saya di Kutoarjo? Kalau kita mati? Siapa yang akan mengabari mereka kalau bukan tetangga?” Tanya Ghuffron



… Lelaki yang kurang bisa ngomong itu makin tak Berkutik.



“Sebagai orang beragama memang kita harus saling ingat mengingatkan. Apalagi kita bertetangga, kadang-kadang kita bisa melakukan kesalahan tanpa pernah disadari. Ya, misalnya kita menyetel kaset keras-keras yang dapat mengganggu tetangga. Lantaran kita….”



“Oh, kalau itu lain Pak!” Seru Tejo memotong kalimat tuan rumah.



“Lain apanya?” Tanya Ghuffron, “Lha orang pak tejo belum mendengar penjelasan saya, kok tiba-tiba sudah mengatakan lain.”



Mendapat pernyataan ini, Tejo diam.



“Benar yang kita setel kaset kita, disetel dirumah sendiri. Tapi, kalau suaranya terlalu keras kan sangat mengganggu tetangga. Mungkin tetangga tidak suka dengan musik yang kita setel, apalagi jika misalnya tetangga sedang sakit gigi.”



Tejo tetap diam.



“Apa pak Tejo bisa tahu ada tetangga yang sedang sakit gigi atau tidak? Kalau memang bisa tau. Tolong saya bagi ilmunya,” tambah Ghuffron, “ sebab ilmu untuk mengetahui keadaan tetangga yang sakit, pusing, stress, atau sedang mengalami….”



20 Juli 2009

“Hidup itu baru terasa manis setelah kita menjalani perjalanan panjang dan pahit, melelahkan dan penuh rintangan...”

Udara pagi musim kemarau terasa dingin menusuk tulang, tapi itu semua tidak menyurutkan niat kami untuk berpetualang di “long weekend” ini. Berbeda dengan petualangan yang lalu, kali ini saya ditemani mantan pacar, yang akan menambah serunya petualangan kali ini.


Seperti biasa meeting point dilakukan di pertigaan jalan sukawana - kol. Matsuri, tepat sebelah timur terminal parongpong yang dilalui oleh trayek Ledeng – Parongpong, Cimahi – Parongpong, dan Lembang - Parongpong. Kali ini saya berangkat dari cicadas menuju ke terminal ledeng dan selanjutnya menuju ke arah terminal parongpong, tepat pukul 8.00 saya tiba di tempat start.

Peserta kali ini terdiri dari 9 orang, yang terdiri dari saya dan istri, kang Ahdi dan Suci Fitri Yanti, Anggit dan Dewi, Hanny Suhaeni, Zakiyah nurul falah dan peserta baru yang masih imut-imut yaitu Mutia. Dari kedsembilan peserta terdapat peserta termuda, Dewi, yang baru menginjak bangku kelas 5 SD, walaupun masih kecil tapi semangat petualangannya mengalahkan teman-teman yang lain. Rencana awal berangkat pukul 8.00, akan tetapi kali ini harus ‘ngaret’ setengah jam karena harus saling menunggu, hingga perjalanan baru bisa dimulai sekitar pukul 8.30. Akibatnya sinar matahari pun mulai terasa panas menyinari seiring keringat yang mulai bercucuran.


Perjalanan dimulai dengan menapaki makadam berdebu yang menuju ke pabrik teh milik PT PN VIII, sesekali ada truk dan motor yang melintas membuat kami harus ‘aktung’ kependekan dari aksi menutup hidung karena debu yang begitu mengepul dikhawatirkan akan ikut memasuki paru-paru kami. Lalu memasuki area perumahan para karyawan pabrik teh yang merupakan kampung paling pinggir yang berbatasan langsung dengan kebun teh.

 


Sesekali ditengah perjalanan kami saling berbagi makanan ringan yang dibekal dari rumah, canda tawa, saling ejek, atau berteriak sekencang-kencangnya menghilangkan kepenat yang ada setelah jenuh bekerja. Cuaca yang cerah dan panas membuat minuman yang kami bawa cepet ludes. makadam menanjak panjang berkelok-kelok dan sinar matahari yang mulai terik membuat kami harus sering istirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga. Udara yang sejuk serta panorama sukawana yang eksotik mengobati kelelahan kami agar cepat-cepat sampai ke tujuan, kawah upas.


Akhirnya kami tiba dipinggiran kebun teh sukawana yang sekaligus berbatasan dengan hutan tangkuban perahu, kontur tanah masih tetap menanjak, kami pun melanjutkan perjalanan pelan-pelan agar tidak kelamaan dijalan. Lalu kami kembali menemukan jalan makadam panjang berkelok-kelok dan terlihat seperti tak ada ujungnya. Dengan rasa penasaran kami terus menyusuri makadam itu hingga terlihat dengan jelas menara-menara tangkuban perahu yang biasa kami lihat dari kejauhan.

Habis makadam itu kami menyusuri jalan setapak berbatu yang menuju ke kawah upas, tepat ketika waktu menunjukan pukul 1.00, kami sampai juga dikawah upas, disana nampak pula sekawanan penghobi motor cross sedang menikmati pemandangan kawah upas yang jarang dilalui oleh wisatawan itu, karena letaknya memang yang susah dicapai oleh kendaraan beroda empat atau pejalan kaki karena letaknya sebelah barat kawah utama yaitu kawah ratu.

Keindahan kawah yang mempesona kami lalui untuk kembali menyusuri jalan setapak yang akan menuju ke penelitian petir milikk ITB, menuju kearah timur. Mengejar makan siang yang memang sudah telat dari waktunya, “salatri” kami bilang. Turun sedikit kearah parkiran kami menemukan tempat makan dengan view pemandangan yang indah.


Perut yang kosong setelah berjalan selama 5 jam dan dinginnya udara serta “view” pemandangan yang indah membuat kami cepat-cepat ingin membuka bekal kami. Saking laparnya kami makan begitu lahapnya dengan nasi yang sudah dibekal dari rumah. Ditemani dinginnya udara yang berhembus serta sekali-kali kabut meniup ke arah kami. Ah, rasanya makan siang yang sangat nikmat. Walaupun dengan lauk seadanya. “maka nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan”.


Selesai kami makan dan istritahat, perjalanan dilanjutkan menuju parkiran bawah untuk melaksanakan shalat dan memenuhi panggilan alam. Secara bergantian dan saling menunggu barang-barang, tepat pukul 16.00 kami mulai bersiap kembali untuk menuruni jalan utama menuju jayagiri, akan tetapi ditengah perjalanan salahsatu diantara kami mengajukan untuk naik angkot, akhirnya kami mencarter angkot gelap untuk mengantarkan kami ke Lembang. Setelah tawar menawar harga pas tancap gas akhirnya kami pulang menuju lembang dengan menyisakan kelelahan yang lumayan. Disambung lagi dengan naik lagi angkot jurusan Lembang – ST. Hall dengan tujuan ledeng, karena kami punya tujuan pulang yang berbeda maka kami berpisah diterminal ledeng. Sampai disini pun kami berpamitan.

Sempat tersesat

Sebagai misi menyelesaikan “target uncomplete” ketika kami bersepeda beberapa bulan yang lalu sebagai pencarian menara sukawana bersama abah, kali ini harus komplit. Walaupun belum tahu jalan tapi saya penasaran ingin menuntaskan misi itu, walau dengan berjalan kaki, tanpa menunggang sepeda. Akibatnya kami tersesat ke tower ujung makadam, untunglah ada bapak penunggu menara yang memberi tahu kepada kami bahwa jalan yang kami lalui salah jika tujuan kami ke kawah upas.

Jalan itu katanya akan menuju ke Panaruban atau ke Situ Lembang yang akan berakhir di Lawang angin, area plang komando CiSarua. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya kami memutar arah untuk kembali melalui jalan yang benar, karena sesuai petunjuk bapa penjaga tower, kami harus mengikuti kabel listrik hingga kami menemukan penelitian petir milik ITB.

Cicadas, 20 Juli 2009.

05 Mei 2009

Penulis Arif "abah" Zaidan
http://abahsaidan.multiply.com

Tak afdol rasanya jika si kuning tak diperkenalkan pada Guru Taryan. Maka, hari Minggu kemarin (4/5), merupakan perjalanan pertama si kuning bersama beberapa teman. Tentu saja, dipandu guru Taryan.

Trip ini sudah kami rencanakan sejak hari Kamis, dalam percakapan Y!M dengan Taryan. "Si kuning bade disiksa ka mana, bah?" Tanya dia. Saya jawab terserah saja. Lalu, Taryan mengajukan sebuah tempat: Curug Luhur.

Di MP-nya Taryan saya pernah melihat foto-fotonya, tampak menarik terlihatnya. Curug Luhur terletak di Desa Cibodas. Jika dari Lembang, ambil jalan ke arah Maribaya. Setelah Maribaya, ke atasnya lagi ke arah Bukit Tunggul. Sampai terminal, belok kiri, di sanalah lokasi Curug Luhur berada.


Langsung saja saya iyakan. tapi, seperti kata Taryan, perjalanan nanti bukanlah perjalanan singkat (short trip). Bisa memakan waktu seharian. Jika begitu, saya harus minta persetujuan Ambu dulu. Tak lama, ijin didapat, tak ada masalah. Lalu, disepakatilah waktu perjalanan. Asalnya, memang mau hari Sabtu, jadinya bergeser satu hari. Perjalanan dilakukan hari Minggunya. Meeting point di gerbang UPI, pukul tujuh pagi.

Soal peserta juga mengalami perubahan. Tadinya hanya dua orang, saya dan Taryan, akhirnya bertambah jadi delapan orang. Saya pikir, lebih seru jika lebih banyak peserta, biarpun waktu bersepeda jadi melar beberapa lama.

Akhirnya, di Gerbang UPI itu, berkumpullah para murid Guru Taryan. Murid lama ada tiga, saya, Jeri dan Oki. Sisanya, murid baru semua. Ada Pitra (Onta) Ramadhani dan Roby Iskandar, para pustakawan bersepeda, teman sekampus dulu. Ada pula Sniper yang hendak menjajal Exrada tunggangan barunya. Juga peserta dadakan bernama Hendra, teman Roby yang tadinya cuma mau ke warung balok saja.

Pukul setengah delapan, rombongan berangkat menuju Lembang. Beberapa yang terbiasa nanjak, langsung melesat. Saya, jeri, Oki dan Taryan memilih belakangan saja. Santai saja, seperti yang saya pesankan pada Taryan malam harinya, "kang, enjing teh santey we, nya heheheh, td enjing2 nembe ti gunung masigit gua pawon:)". dibalas langsung oleh Guru Taryan, "Mangga, bah!"

Sampai di Lembang, rombongan berhenti sebentar di daerah warung balok. Menghangatkan perut dengan teh manis panas dan lemon peras. Sedikit ngopi gehu dan bala-bala juga.

Pukul sembilan lewat perjalanan dilanjutkan. Kali ini bonus turunan panjang dan berkelok sebelum kawasan wisata Maribaya lumayan memanjakan. Meskipun kemudian harus ditebus dengan tanjakan yang tak kalah panjang dan berkelok setelahnya.

Seluruh rombongan sampai di Desa Cibodas pukul sepuluh lewat. Berhenti sejenak untuk istirahat dan membeli nasi bungkus buat dimakan di Curug Luhur sana. Kabarnya, Curug ini dulunya adalah kawasan wisata. Tapi lalu ditutup karena memakan korban sepasang suami isteri yang meninggal saat bertapa. Katanya sih minta nomor, pastinya saya kurang tahu.

Tapi, ditutupnya curug sebagai kawasan wisata, nyata benar dampaknya. Setelah makadam dan jalur setapak tanah yang menanjak, kami disuguhi jalan setapak yang terlihat lama tak dikunjungi. Rumput, ranting dan alang-alang nyaris saja membuat jalan tak terlihat. Tinggi-tinggi pula, hingga mengharuskan beberapa kali berhenti karena menyangkut di pulley atau sprocket di bagian belakang.


Beberapa kali pula jalur yang tak terlihat itu menjebak sepeda, membuat terguling atau paling tidak terperosok. Tak jarang tumbuhan durinya, semacam putri malu, menggores kaki dan tangan. Bahkan, jika saja tak ada helem, bukan tak mungkin kepala menjadi korban.



Jalur yang tertutupi membuat pemandu kami beberapa kali turun dari sepeda untuk survey. Memastikan mana jalan yang benar. Suatu waktu, bahkan kami semua menempuh jalur yang salah, membuat kami harus mengulang dari persimpangan sebelumnya. Bahkan, dalam keputusaasaan, pernah kami berpikir bahwa jalur ini bukan lagi jalur sepeda.

Hingga akhirnya bertemu jalur yang benar, namun mengharuskan kami memarkir sepeda beberapa puluh meter dari lokasi curug. Perjalanan yang panjang dan melelahkan, memang. Tapi, akhirnya sampai juga di tujuan. Lalu, seperti kata Onta, begitu melihat air jatuh di ketinggian, semuanya terbayar! Sesaat setelah melihat Curug Luhur itu, rasanya ada keterpukauan yang sama terhadap keindahan alam.



Sampai di Curug, Taryan langsung berwudhu lalu menghamparkan raincoatnya untuk alas Shalat. Di sebuah batu dengan permukaan yang agak rata dan lebar. Setelah selesai, kami antri bergantian. Lelah berperjalanan terbasuh dengan dinginnya air curug saat berwudhu.



Selesai shalat, tak lama, bekal pun dibuka. Nikmat rasanya santap siang di tengah pegunungan. Apalagi jika mengingat bagaimana upaya kami bisa mencapai tempat ini. Sambil makan, saya dan Taryan berbincang tentang betapa keindahan alam selalu saja menimbulkan keterpukauan luar biasa.


Waktu kecil saya mengaji dulu, hal ini disebut ustadz sebagai Tadabbur Alam. Artinya bukan hanya sekedar wisata, katanya. Ada hal-hal yang bisa sengaja dimaknai. Tentang bagaimana Tuhan �menampakkan diri� melalui ciptaan-Nya, misalnya. Dulu, guru ngaji saya bilang kalau mau mengenal Allah, kenalilah lewat ciptaan-Nya.

Barangkali inilah yang dimaksudkan; ketika terpukau akan keindahan alam, semestinya di sana lahir kesadaran bahwa kita hanyalah makhluk kecil dan nihil. "Tiada daya dan upaya, semua hanya milik-Nya". Maka sungguh, di tempat ini saya teringatkan kembali, tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu sia-sia. Maha suci Engkau, ya, Allah, semoga kami dijauhkan dari api neraka.

Selesai makan, kami agak berlama-lama di sana. Terlebih, saat itu hanya kami berdelapan yang ada di lokasi Curug (di luar yang tidak terlihat,tentu). Menjadi turis sehari, menikmati dinginnya air curug juga tak lupa bergaya di depan kamera.

Diantara kami berdelapan, hanya Jeri yang membawa kamera. Tapi itupun sudah cukup. Dokumentasi, kata Taryan adalah hal yang penting di setiap perjalanan. Boleh jadi, karena gambar hanyalah �second hand reality�, dia tidak membawa serta kepayahan kami menempuh perjalanan ini. Tak pula memperlihatkan muka frustrasi karena di depan tampak (lagi-lagi) tanjakan.

Satu-satunya hal yang terekam hanyalah kegembiraan, biarpun lepas pulang, kami basah kuyup kehujanan.

Bandung, 4 mei 2009

17 Maret 2009

“kebiasaan adalah racun sedangkan rutinitas tak lain dari pembunuh berdarah dingin”

Silent morning itulah biasa orang menyebutnya, pagi yang tenang dimana sebagian orang libur dari bekerja. Saat dimana terlepas dari rutinitas yang terkadang membuat jemu. Walaupun Cuma dua hari bahkan satu hari maka akhir pekan ini banyak orang pergi berlibur.

Seperti halnya kami, pagi itu hari saptu tanggal 7 maret 2009. Sebuah pagi yang sangat cerah dimana tak tampak satu awan pun, langit begitu bersih dan begitu biru. Jalanan belum begitu macet, hiruk pikuk dan kesibukan para tukang angkot masih belum begitu terlihat.


Kalau orang bilang petualangan adalah penjumlahan antara resiko dan tujuan, maka tujuan kami adalah Gunung Tangkuban Perahu dan tentunya dengan resiko yaitu harus berjalan kaki untuk mencapai puncak. Semua resiko yang akan terjadi telah kami minimalisir, sesuai intruksi kepala suku maka tiap-tiap kami harus membawa bekal masing-masing seperti nasi timbel komplit, makanan ringan(coklat, biscuit, dll), alat shalat, raincoat, seragam hiking, dan satu hal yang paling penting yaitu  berdoa dan shodaqoh sebelum berangkat.

Sesuai dengan rencana, kami melakukan meeting point di jalan gegerkalong hilir, tempat perhentian akhir angkot trayek cimahi – ledeng. Agis, Hanny dan Suci sudah mengunggu saya yang sedikit telat datangnya. Tanpa pembicaraan yang panjang langsung kami memutuskan untuk berangkat dan memilih angkot jurusan ST.Hall – Lembang, sembari menikmati perjalanan disertai pembicaraan ringan diangkot, sebelum akhirnya membawa kami tiba di Pasar Lembang.


Jayagiri Dua, inilah jalan yang kami susuri, awal perjalanan sudah disuguhi dengan tanjakan aspal yang panjang sampai menemukan makadam yang menanjak pula, disebuah warung dipinggir jalan kami membeli gorengan dan leupeut sebagai ganjal perut yang memang sedari pagi belum sempat sarapan.


Dari ujung makadam itu kami menemukan jalan setapak dan merupakan batas antara perumahan penduduk jayagiri 2 dengan kawasan hutan jayagiri. Disini kami istirahat sambil menghabiskan gorengan yang kami beli tadi, saya dan hanny berjalan lebih cepat dan lebih duluan, sementara agis dan suci berjalan paling belakang.


Diperhentian ini kami agak lama menunggu agis dan suci yang terlihat kecil dari kejauhan, seperti sepasukan semut yang sedang berjalan. Ketika tiba nampak wajah kelelahan menyelimuti Agis, mukanya pucat, sekujur tubuhnya tampak lemas dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Saya pun sedikit panik melihat keadaanya, lalu saya menyapanya “de agis masih kuat kan, atau mau balik lagi?” dengan semangat yang tersembunyi dijawabnya “masih kuat kang”.


Agar lebih bersemangat maka Tas yang tadinya dibawa agis dibawa oleh saya, dengan maksud meringankan bebannya karena jalan masih menanjak sampai benteng belanda. Selain itu sinar mentari yang terik mempercepat kami dehidrasi. Akhirnya sampai sudah kami di benteng belanda dimana jalan setapak yang tak lagi menanjak, dan tanpa menyuruhnya agis pun kembali meminta tas yang dibawa oleh saya, tak lupa mengucapkan terimakasih kepadaku, “makasih yah kang”.

***

Kini kami mulai memasuki hutan, pohon-pohon tumbuh tinggi dan besar tidak seperti pohon-pohon pinus di jayagiri  yang telah kami lewati. Bunga-bunga terompet berwarna putih bersih terlihat dibeberapa pinggir jalan, seperti penjaja terompet yang menjajakan barang dagangannya, diaturnya terompet-terompet itu secara alamiah. Udara begitu segarnya jauh dari polusi dan jauh dari keibisingan. Suara tonggeret menghiasi keheningan hutan berselang-seling dengan suara burung hutan yang kalau sekilas akan terdengar seperti orang melafalkan kalimat “ciiiiipeuuuww”.

Dari benteng belanda kami melalui jalan tengah hutan dengan maksud “motong kompas” ke arah parkiran bawah gunung tangkuban parahu. Sebagai tour leader saya agak sedikit kebingungan ketika mendapati sudah banyak jalur-jalur baru. Jalur-jalur itu sebagain telah rusak, berlubang dalam karena sering dilalui oleh penghobi motor cross yang memakai ban pacul (red : ban Cangkul).

“dan telah nampak kerusakan dimuka bumi karena ulah tangan manusia”


Target pertama sebentar lagi akan dijumpai, namun saya ingin mencari jalur baru dengan berbelok mengambil jalan kiri tujuannya agar cepat sampai parkiran, dan rupanya jalan yang ditempuh makin asing, akhirnya dengan keputusan bersama  kami balik arah dan melanjutkan kejalan semula. Disini bau blerang sudah tercium pekat maaf seperti bau kentut yang menusuk hidung.

Inilah petualangan kawan, sekali kau ceroboh dan sombong maka kau akan tersesat, bahkan bisa celaka. Tibalah kami di parkiran bawah tanpa istirahat  yang lama perjalanan pun dilanjutkan ke puncak kawah yang berjarak beberapa kilometer saja. Menanjak dan berkelok-kelok. Sedikit menghibur, saya pun sedikit membujuk “tenang tinggal dikit kok, dua belokan lagi!”

***

Tujuan yang utama akhirnya terlaksana, kini kami sampai dipuncak, lalu photo-photo narciscus, sambil mengagumi kemahaagungan-Nya tanpa peduli para pengunjung lain memperhatikan kami, dan seperti begitulah efek petualangan kawan, kita jadi begitu gembira begitu semangat dan semakin menambah keyakinan baru, bawha kita itu begitu kecil dihadapan-Nya.


Menyusuri ke ujung jalan sampai kami menemukan tempat yang enak untuk makan, makanan yang dibekel dari rumah, tentunya lebih hemat, lebih sehat, dan yang paling utama adalah bergizi. Kami makan begitu lahapnya, tepat ketika adzan dzuhur berkumandang dari "TOA" musholla gunung tangkuban perahu. Ada “basreng” HOT, ada “INTEL” goreng, ada “KFC”, dan sayuran lainnya. Hmmm enak.

Setelah selesai makan sambil meluruskan kaki kami yang mulai terasa pegal-pegal, kami mulai memakai kembali jaket karena udara terasa dingin. Setelah istirahat dirasa cukup maka kembali perjalanan kami lanjutkan, tanpa terduga cuaca berubah cepat, awan hitam mulai menaungi puncak gunung, dapat diprediksi sebantar lagi hujan deras akan turun, benar saja hujan turun begitu lebatnya, lalu kami berteduh, dan seusai hujan reda kami shalat di mushola lalu Perjalanan dilanjutkan.

Menuruni jalanan aspal, berlubang dan becek, sesekali diselingi kerikil-kerikil  tajam, sementara jalanan terus menurun menuju jalan setapak lagi yang akan tembus ke jalur jayagiri utama. Disini Agis dan Suci sempat “tipeleset” tapi turunan akar jayagiri tidak membuat kami ada yang terluka dan terasa seru disisa-sisa tenaga yang ada.

Sebuah tanjakan legendaries, tanjakan jayagiri, tanjakan yang dipopulerkan lewat lagu “melati dari jayagiri”. dan kini malah kami menuruninya. Sampai menemukan batas antara pintu masuk dan perumahan penduduk.


Jalan yang lurus dari jayagiri akan berada tepat disamping ketika kami berangkat, sebuah angkot jurusan Ciroyom – Lembang sudah menanti untuk kembali ke perjalanan pulang. Pulang, pulang dan istirahat. Semoga perjalanan kali ini penuh makna. (Terima kasih kepada Hanny, Agis dan Suci - Admin CyberMQ)

“Jika kau ingin menjadi orang yang berubah maka ingat 3 hal : 1. Baca Alquran 2. Belajar 3. Berkelana/Bertualang”

10 Februari 2009

Mestinya, begitulah perjalanan bersepeda dilakukan. Begitu Menyenangkan. Hanya bersepeda. Tak ada kesibukan ‘memperluas jaringan’, tak ada kegiatan ‘prospek’ untuk bisnis di kemudian hari, tak ada pamer dan memperbandingkan sepeda, yang ada hanya tawa, serta kedinginan diguyur hujan sepanjang perjalanan.


Minggu (8/2) pagi, tujuh orang berkumpul di depan gerbang UPI. Saya, Taryan, Erik, Dweyy, Ikhsan, Jerry dan Oki. Agak telat memang dari janji jam 6 yang sudah ditetapkan. Pukul 6.30, kami sudah mulai mengais kayuh. Sebagai pemandu jalan, siapa lagi kalau bukan Taryan.

Asalnya, kami berencana pergi ke Curug Putri Layung via Tangkuban Perahu. Dirasa terlalu lama dan menyita waktu, akhirnya jalan yang kami lewati adalah jalan Cihideung, lalu memotong jalan menuju parongpong dari Grha Puspa. Komplek perumahan di mana rumah makan ‘Sapu Lidi’ berada.

Maka, tanjakan-tanjakan cihideung menjadi menu sarapan yang ‘menyenangkan’. Terus begitu hingga sampai perhentian pertama di ‘Sapu Lidi’.

Lepas itu, menyeberang jalan raya parongpong, rombongan sepeda langsung masuk ke sebuah jalan desa. Aspal kasar, dihiasi batu-batu besar menambah lengkap penderitaan. Sejauh mata memandang yang ada hanya tanjakan, dengan sudut kemiringan yang besar pula.

Nantinya, jalan ini akan berganti makadam, lalu habis itu berganti jalan tanah. Tembus langsung ke hutan sekitar sukawana. Jalur yang biasa digunakan pergi pulang dari dan menuju Cikole, Jayagiri juga Gunung Putri.

Kelak, ketika masuk hutan, bakal terlihat vinyl besar bertuliskan semacam peringatan-peringatan dari Perhutani, berkenaan dengan pelestarian lingkungan. Sebagaimana yang saya lihat juga di ‘pintu-pintu masuk’ hutan lainnya di daerah sini.

Tapi, sebelum itu, rombongan sempat berhenti dua kali. Pertama, di sebuah lahan kosong di pinggir jalan, tempat melihat view Parongpong, Cisarua, Cihideung dan sekitarnya. Kedua, di sebuah warung dengan bala-bala hangat terenak di dunia. Tentu saja, bala-bala yang nikmat disantap setelah serangkaian tuntun sepeda yang kami lakukan.

Ya, jalan makadam yang menanjak, membuat sebagian besar rombongan menyerah untuk mengayuh. Alasan standar yang dikemukakan, adalah tanjakan makadamnya licin, lah; bannya slip, lah; tapi alasan sesungguhnya boleh jadi karena batas ketahanan kaki sudah mulai sampai di penghujungnya.

Hanya Taryan yang tetap di atas sadel. Mengayuh pelan, tapi pasti. Konsisten memutar pedal dengan kontrol tangan yang stabil. Percayalah, seperti Roma yang tidak dibangun dalam satu hari, kekuatan kaki dan kecakapan tangan seperti itu dibentuk dari perjalanan ke perjalanan selama kurun waktu tahunan.

Perjalanan ini, tanpa dikatakan pun sudah mengelompokkan kami dalam rentang urutan yang jelas. Taryan sudah membuktikan tanpa perlu mengatakan.

* * *

Hujan yang turun sejak pagi, tampak bersahabat benar dengan kami. Lekat sekali, seolah tak mau lepas lagi. Terus mengikuti sepanjang awal perjalanan. Hanya di daerah Sapu Lidi, hingga perhentian pertama di jalan desa yang tak terlalu deras. Lepas itu, terus mengguyur hingga sukawana.

Belakangan saya sadari, jika hujan di Setiabudhi dan parongpong berasal dari awan yang turun dari utara, maka kami pergi menuju ‘pabrik’ di mana hujan itu diproduksi.

Untung saja, rombongan bersepeda kali ini telah memperhitungkannya. Jas hujan, atau setidaknya jaket kedap air, tak luput dari persiapan. Terbukti memang, apa yang dikatakan Aa Gym, bertahun-tahun silam, “pencanaan adalah 50% kerja”. Kita menuai apa yang kita tanam, menikmati apa yang kita persiapkan.

Hujan seolah melupakan kami pada kelelahan, sekaligus mengingatkan akan masa-masa kecil menyenangkan saat bermain-main di bawah siraman hujan. Kesenangan serupa dimulai saat masuk hutan. Ketika menyusuri jalan setapak tanah yang licin dan bertemu makadam berseling rerumputan.

Mulai memuncak ketika sampai di permulaan hamparan kebun teh. Ketika jalan mulai menurun, seiring kabut tebal yang yang juga ikut turun. Sejenak, kabut sirna dari pandangan. Tapi harus dibayar dengan jaket dan raincoat yang semakin basah saja.

Sampai di tempat pemberhentian berikutnya, tenda seng tempat para pemetik teh biasa berkumpul, hujan semakin deras. Kali ini ditambah kencangnya angin yang dinginnya terasa menusuk tulang. Kami basah dan kedinginan.

Saya, Dweyy dan Taryan sempat agak khawatir saat rombongan di belakang tak juga muncul. Padahal jarak antara kami tak terlalu jauh, tapi koq tak kunjung tiba. Ikhsan, Erik, Jerry dan Oki belum muncul juga. Ternyata, di turunan, Ikhsan sempat mereparasi bannya yang gembos terkena batu besar melintang. Yang lainnya, setia menemani.

Rombongan yang lengkap, makanan berlimpah, berfoto bersama, bercanda dan tertawa membuat dinginnya siang itu agak berkurang. Pukul 10.30 saat itu, tapi rasanya masih pagi sekali. Di tempat ini, kabut dan hujan membuat waktu seolah tidak berarti.

* * *

Dingin mengalahkan segalanya. Semua sudah dilakukan, tapi dingin tak juga beranjak pergi. Harus ada yang mengalah, akhirnya kami yang pergi. Masih menyusuri jalur di mana teh terhampar di kanan kiri, hingga di tempat di mana turunan menuju jalan setapak Curug Putri Layung. Jalan setapak dengan belokan 180 derajat. Di tempat ini, matahari mulai menyapa.

Jalan setapak menuju curug sungguh curam rupanya. Ada juga halangan pohon besar tumbang yang merintangi jalan. Terpaksa sepeda harus diangkat. Begitu juga ketika masuk ke kawasan curug, jalan setapak menurun dan curum serta licin. Lucky me, pagi sebelum berangkat, saya memutuskan untuk mengenakan sepatu sepakbola. Ternyata berguna kemudian.

Tapi sepatu harus dilepas, ketika kami akan menyeberangkan sepeda. Maka, di curug putri layung itu, dengan arus yang cukup deras, berjejerlah kami bertujuh, mengoperkan satu demi satu sepeda dalam dua tahap. Tanpa harus berteriak ‘kerja sama’ (apalagi sambil mengepalkan satu tangan di atas kepala), saat itu memang harus bekerja sama agar sepeda sampai di seberang tepian di depan.

Hingga akhirnya semua sepeda sampai di tujuan. Biarpun harus dibayar oleh dinginnya air curug yang membuat pijakan terasa kebas. Baal, urang sunda bilang. Rasanya seperti direndam air kulkas, atau menginjak serpihan es.

Acara selanjutnya adalah cuci-cuci. Mencuci sepeda; mencuci kaki; mencuci sepatu; mencuci kaos kaki – dan memerasnya. Tak lama di sana. Hanya sebentaran berfoto, sepeda diangkut kembali. Kalau tadi menurun, kini sebaliknya. Jalan setapak menanjak dengan beban sepeda di pundak.

Taryan bilang, ada warung Intel di atas sana. Hmm... Indomie telor panas sepertinya mantap, apalagi hujan masih tak mau berhenti juga. Sementara Ikhsan sudah memesan duluan, saya dan Taryan masih menunggu yang lainnya datang.

Warung yang Taryan ceritakan itu, sederhana saja rupanya. Berdiri semi permanen di area perkemahan. Pinus tumbuh di sana-sini. Di sela-sela itu, tak lama, yang dinanti datang beriringan. Mengangkat sepeda dan tampak kelelahan.

Tapi saya harus melupakan Indomie Telor. Menemani Dweyy, kami beranjak duluan. Saat itu sudah pukul 12 siang lewat beberapa menit. Sudah lewat dari batas waktu yang diijinkan (deadline, wey? Hehehe).

Berharap bisa merasakan sensasi makan Indomie telor di tengah kedinginan di rumah nanti, harapan itu terkubur saat menuju pulang, saya menjumpai Parongpong, Cihideung, dan Bandung ternyata terang benderang.

* * *

Bagi saya, kesenangan lainnya adalah ketika perjalanan usai sudah. Biar pegal terkadang melanda sekujur tubuh, atau kulit yang terbakar serta menghitam beberapa grade, rasanya menyenangkan ketika melihat kembali foto-foto dokumentasi perjalanan.

Tentu saja, tak ketinggalan, untuk mengikat makna, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menuliskannya. Catatan perjalanan yang menandai apa saja yang sudah dilakukan, mungkin juga sebagai oleh-oleh buat teman atau kelak di kemudian hari jadi kenangan.

Lalu, seolah mengamini ungkapan, “jika menyenangkan, apapun bisa dikerjakan dengan cepat”, tulisan ini bolehlah mewakilinya. Mewakili perasaan senang saya yang bersepeda di hari minggu itu.

Thanks to: Taryan, Dweyy, Ikhsan, Jeri, Erik dan Oki


“Maka nikmat-Nya yang manakah, yang kan kau dustakan?”
(disebutkan berkali-kali di surat Ar Rahmaan)

Bandung, 09 Februari 2009: 14.30

 Penulis : Arif Rifqi Zaidan